PSdK UGM Gelar Diskusi Menyoal Formasi Baru Pembangunan dan Kesejahteraan

YOGYAKARTA — Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan menyelenggarakan kegiatan Social Development Talk (SODET) bertajuk “Membayangkan Formasi Baru Pembangunan dan Kesejahteraan” pada Jumat (22/5) di Selasar Barat Fisipol UGM. Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Akbarian Rifki Syafaat, S.Sos., Okky Madasari, Ph.D., dan Tauchid Komara Yuda, Ph.D.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Departemen PSdK, Bahrudin, Ph.D yang menekankan pentingnya ruang diskusi kritis untuk meninjau kembali arah pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia. Diskusi kemudian dipandu oleh moderator Milda Longgeita Pinem, Ph.D.

Pembicara pertama, Akbarian Rifki Syafaat, dalam pemaparannya menyoroti pentingnya pluralitas epistemologi dalam pembangunan. Menurutnya, pembangunan tidak hanya dapat diukur melalui peningkatan angka-angka statistik, tetapi juga harus mempertimbangkan cara masyarakat memandang dan membangun pengetahuan. Ia menegaskan bahwa proses pembangunan perlu memberi ruang bagi berbagai perspektif dan pengalaman masyarakat.

Sementara itu, Okky Madasari mengangkat berbagai persoalan mendasar yang masih menyertai pembangunan saat ini. Ia menilai bahwa pembangunan modern masih menyisakan berbagai tantangan seperti ketimpangan akses sumberdaya, persoalan keadilan, lemahnya demokrasi, hingga kegagalan pendidikan dalam membentuk masyarakat yang kritis. Menurutnya, pembangunan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi lebih berfokus pada pembangunan manusia secara menyeluruh.

Di sisi lain, Tauchid Komara Yuda menyoroti pentingnya memahami pembangunan sebagai sebuah proses (developing), bukan sekadar hasil akhir (development). Ia menekankan bahwa kesejahteraan tidak dapat hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau peningkatan aktivitas ekonomi semata. Kreativitas, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan institusi dalam menciptakan ruang pengembangan masyarakat menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.

Kegiatan ini juga diisi dengan sesi tanggapan dan diskusi interaktif dari mahasiswa serta peserta yang hadir. Berbagai isu turut dibahas, mulai dari keresahan generasi muda terhadap lapangan pekerjaan, pendidikan, ketimpangan pembangunan, hingga pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

Melalui diskusi ini, para pembicara menekankan bahwa pembangunan yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang lebih humanis dan partisipatif. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang berperan aktif dalam menentukan arah pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan realitas sosial yang dihadapi.

Kegiatan Social Development Talk diharapkan dapat menjadi ruang refleksi bersama bagi sivitas akademika dan masyarakat dalam membayangkan arah pembangunan yang lebih inklusif, adil, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

advanced divider
Kategori