Dialog KAPSTRA #3 “Urgensi Motivasi Belajar Siswa dalam Peningkatan Kesadaran akan Pentingnya Proses dalam Pendidikan “

Pendidikan merupakan hak mendasar bagi seluruh umat manusia. Pendidikan dapat menjadi salah satu kunci peningkatan mutu sumber daya manusia yang unggul. Persoalan pendidikan menjadi isu yang selalu aktual untuk dibahas. Pada World Population Review tahun 2021, Indonesia menempati peringkat 54 dari 78 negara. Hal tersebut menandakan bahwa Indonesia masih jauh dalam sistem dan kualitas pendidikan yang bermutu. Indonesia telah berusaha memberikan sistem dan kualitas pendidikan yang lebih baik, tetapi belum memberikan sistem dan kualitas pendidikan yang terbaik. Dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa terdapat 399.376 sekolah tahun ajaran 2022/2023. Jumlah sekolah tersebut belum dapat menjadikan pendidikan Indonesia dapat berkualitas dan membentuk sumber daya manusia yang unggul. Persoalan pada saat ini adalah bukan sebatas pada banyaknya tempat untuk bersekolah tetapi juga memastikan bahwa siswa dapat belajar. Pakasi (dalam Ahdar & Wardana, 2019) mengatakan  bahwa belajar adalah media komunikasi anak dengan lingkungan, belajar dapat diartikan mengalami, belajar berarti melakukan, belajar sebagai aktivitas yang memiliki tujuan, perlunya motivasi dalam belajar, belajar juga memerlukan kesiapan pada anak, belajar merupakan cara berpikir dan menggunakan daya pikir, serta belajar bersifat terpadu/integratif. 

Dalam hal tersebut, belajar tidak sebatas menghafal apa yang diajarkan tetapi ada proses di dalamnya. Akselerasi keinginan siswa dan masyarakat yang berorientasi pada hasil ujian perlu diubah dikarenakan proses belajar menjadi lebih penting jika dibanding hasil ujian. Pada konteks negara seperti Korea Selatan yang minim sumber daya alam, pendidikan menjadi fokus utama dalam menjalankan pembangunan. Muhardi (2004) menegaskan bahwa sebuah bangsa yang telah menikmati kesejahteraan dan kemakmuran ialah bangsa yang memfokuskan pembangunan pada pendidikan di balik minimnya potensi sumber daya alam. Hal tersebut menandakan bahwa motivasi belajar dan etos kerja tinggi mempunyai peran penting dalam pembangunan manusia. Siswa perlu ditanamkan etos kerja yang kuat dan kesadaran akan pentingnya proses. Motivasi belajar terbagi menjadi dua, meliputi motivasi intrinsik sebagai motivasi yang muncul dalam diri individu sedangkan motivasi ekstrinsik sebagai motivasi yang datang dari luar individu untuk belajar (Emda, 2018). 

Pendidikan dan kesejahteraan mempunyai hubungan saling mempengaruhi. Motivasi yang tinggi dari setiap siswa dapat mendorong minat individu untuk menjadikan sekolah bukan sekedar tuntutan tetap sebagai kebutuhan (Palupi et al ., 2014). Dalam memajukan sebuah negara dapat diawali dengan mengevaluasi hingga merumuskan kebijakan yang tepat khususnya dalam bidang pendidikan. Hal tersebut tidak terbatas pada penumbuhan motivasi secara intrinsik maupun ekstrinsik bagi siswa tetapi juga peningkatan kualitas guru dan dukungan penuh pemerintah serta seluruh masyarakat. Dengan demikian, tidak sebatas pada unit sekolah yang mengalami peningkatan, tetapi juga dorongan motivasi belajar intrinsik. Sekolah menjadi sebuah kebutuhan bukan desakan dan perlu kesadaran akan proses untuk menjadi manusia melalui tantangan-tantangan ketika belajar guna peningkatan kualitas individu agar dapat sejahtera.

Penulis: Ni’ma Ulinnuha (Staf Divisi Pengembangan Wawasan dan Keilmuan)

Penyunting: Divisi Pengembangan Wawasan dan Keilmuan

Leave a Comment

Name * id="author" name="author" type="text" value="" size="30" maxlength="245" aria-required='true' required='required' />

Comment *id="comment" name="comment" cols="45" rows="8" maxlength="65525" aria-required="true" required="required">