Ana Kaporina Saharani Andeska, mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM angkatan 2023, membuktikan bahwa bidang studi ini bukan sekadar bekal akademik, melainkan kompas untuk bergerak, baik di arena kompetisi, organisasi, dan dunia profesional. Ana memanfaatkan setiap ruang yang ada untuk mengukir prestasi di berbagai ajang nasional maupun internasional.
Selama menempuh perkuliahan Ana berhasil menjadi Juara 1 Debat Lingkungan yang diselenggarakan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) di Samarinda, Juara 1 Philoday Debate yang diselenggarakan Fakultas Filsafat UGM bersama UNESCO Indonesia. Tidak berhenti pada satu podium, ia juga meraih Juara 2 dalam Business Case Competition yang diselenggarakan oleh POISE UGM, dan berbagai kompetisi lainnya. Deratan prestasi ini semakin memperkuat kemampuan Ana dalam menjembatani perspektif sosial dengan logika bisnis.

Di panggung internasional, Ana turut mencatatkan nama sebagai 7th Winner dalam Startup Competition yang diselenggarakan oleh SangSang Univ. Indonesia, KT&G Foundation dan Best Deck International Industrial Business Project yang diselenggarakan HMTI FT Universitas Brawijaya.

Pengalaman Ana tidak terbatas pada arena kompetisi. Ia juga menjalani magang di PT Pertamina Patra Niaga AFT Adi Sumarmo, dengan fokus pada kegiatan CSR, community engagement, dan dokumentasi program masyarakat. Kesempatan tersebut memberinya ruang untuk melihat secara langsung bagaimana konsep-konsep yang ia pelajari di bangku kuliah diterapkan dalam praktik nyata di lapangan dan dunia profesional.

Di sisi organisasi, Ana aktif di Gadjah Mada Debating Society (GMDS), Foreign Policy Community of Indonesia UGM (FPCI UGM), dan BEM KM UGM bidang Analisis Isu Strategis. Ketiga wadah tersebut ia manfaatkan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, memperluas jaringan, sekaligus mengasah kepekaan terhadap isu-isu strategis yang berkembang di tingkat nasional maupun internasional.

Terakhir, Ana juga menekuni dunia kreatif sebagai freelancer di bidang creative marketing dan fotografi. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan tambahan, melainkan ruang untuk memperkuat kemampuan komunikasi visual, branding, dan pemasaran digital yang semakin relevan di era sekarang.
Ketika ditanya tentang bekal terbesar dari studinya, Ana merujuk pada kemampuan memahami isu sosial secara kritis dan kontekstual yang ia peroleh dari PSdK. Pemahaman tentang CSR, pemberdayaan masyarakat, serta analisis kebijakan, menurutnya, menjadi landasan yang terus digunakan dalam setiap aktivitas dari meja debat hingga program community engagement di lapangan. “PSdK membentuk kemampuan komunikasi, riset, dan problem solving yang sangat relevan dalam organisasi, pekerjaan kreatif, hingga kegiatan sosial di lapangan,” ungkapnya.
Kepada sesama mahasiswa PSdK, Ana menitipkan satu pesan yang sederhana yaitu berani mengambil ruang dan menciptakan peluang. Ia percaya bahwa mahasiswa PSdK memiliki modal yang tidak semua orang miliki, pemahaman sosial yang mendalam, kepekaan terhadap isu publik, dan kemampuan analisis yang dapat diterapkan di banyak bidang. “Mahasiswa PSdK mampu menjadi representasi generasi muda yang kritis, kolaboratif, dan berdampak, tidak hanya di lingkungan kampus tetapi juga di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.