Belajar Melihat Masyarakat Lewat Tari: Perjalanan Candrika Kumaralita di Program Magister PSdK UGM

Menjalani studi pascasarjana sering kali dianggap menuntut konsentrasi penuh yang membuat aktivitas lain harus dikesampingkan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Candrika Kumaralita Widitawati (Ara), mahasiswi magister PSdK UGM yang tetap konsisten menekuni dunia seni tari di tengah kesibukan akademiknya.

Ara rutin menari dalam pergelaran Ramayana Ballet Prambanan serta terlibat dalam sejumlah pertunjukan dan kegiatan seni lainnya. Tidak hanya sebagai penari, ia juga beberapa kali dipercaya menciptakan karya tari. Salah satu karyanya, Tari Bedhayan Sesanti Gadjah Mada, ia koreografikan untuk memeriahkan Dies Natalis ke-76 UGM pada 2025.

Menurut Ara, perkuliahan dan berkesenian bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satu, melainkan dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi. Ia menuturkan bahwa apa yang dipelajarinya di PSdK membuatnya semakin memahami tari bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Ara mengaku bahwa ketertarikannya pada kehidupan sosial masyarakat, yang kerap menjadi bagian dari cerita dalam sebuah karya tari, menjadi salah satu alasan utamanya memilih program studi PSdK. Selama menjalani perkuliahan, ia merasakan bahwa pengalamannya di dunia tari dan ilmu yang diperolehnya di PSdK saling berkaitan dan memberikan perspektif baru. Baginya, keputusan untuk tetap aktif berkesenian di tengah studi bukan semata-mata karena ingin menjalani dua hal sekaligus, melainkan karena keduanya merupakan bagian penting dari proses belajar dan pengembangan dirinya.

Ara menyampaikan bahwa hal paling berkesan yang ia peroleh dari PSdK adalah cara melihat masyarakat dengan lebih terbuka dan tidak terburu-buru menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di permukaan. Ia belajar untuk lebih peka terhadap kondisi dan pengalaman orang lain, serta memahami bahwa setiap peristiwa memiliki latar belakang dan proses yang membentuknya.

Pembelajaran mengenai metode process tracing juga membiasakannya untuk menelaah lebih dalam dan memahami fakta di balik sebuah realitas. Cara berpikir tersebut, menurutnya, turut membantunya dalam menjalani aktivitas sebagai penari, terutama saat harus memahami cerita, nilai, budaya, dan karakter yang ia bawakan dalam sebuah pertunjukan.

Ara berpesan agar mahasiswa tidak merasa harus meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi bagian dari diri sebelum berkuliah, karena proses belajar bisa terjadi di banyak tempat, tidak hanya di ruang kelas.

“Bagi saya, yang terpenting bukan seberapa banyak hal yang bisa kita lakukan dalam satu waktu, tetapi bagaimana setiap pengalaman yang kita jalani dapat membuat kita terus belajar dan bertumbuh,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

advanced divider
Kategori