Bagi Raissa Almira, keberhasilan bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Di balik pencapaiannya sebagai penulis, komunikator profesional, dan calon doktor di National University of Singapore (NUS), terdapat proses panjang yang dipenuhi penolakan, percobaan berulang, dan keberanian untuk terus mencoba.
Alumna Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fisipol UGM angkatan 2016 ini memandang setiap pengalaman sebagai bagian dari perjalanan belajar. Semangat tersebut sudah terlihat sejak masa kuliah, ketika ia aktif mengikuti berbagai program internasional, konferensi, kompetisi, hingga short course di luar negeri. Melalui berbagai aplikasi beasiswa dan program pendanaan, Raissa berhasil mengunjungi 6 negara selama menjadi mahasiswa.

Meski demikian, pencapaian tersebut tidak datang tanpa tantangan. Ia mengaku harus melalui hampir 20 kali penolakan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan yang diimpikan dan justru di titik paling pasrah itulah jalannya terbuka. Raissa percaya bahwa ada kalanya manusia hanya perlu melepaskan kendali dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Setelah hampir dua tahun mempersiapkan esai, tes bahasa, hingga biaya pendaftaran, ia akhirnya memperoleh beasiswa Australia Awards untuk melanjutkan studi Master of Marketing Communication di University of Melbourne.

“Karena saya juga berkali-kali gagal, saya merasa penting untuk membagikan prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya, dan saya ingin orang lain tahu bahwa mereka tidak perlu melewati jalan yang sama ” ungkapnya.
Selain aktif di bidang akademik, Raissa juga mengembangkan minatnya dalam dunia kreatif dan komunikasi. Ia menerbitkan lima buku puisi berbahasa Inggris, yaitu Keep Going: A Collection of Self-Love Poems, A Thousand Words for You, Something to Remember Me By, A Bouquet of Memories and You, dan yang paling terbaru, Sense of Self Seluruh ilustrasi dalam 3 dari 5 buku tersebut dibuat secara mandiri, menunjukkan perpaduan antara ketertarikan Raissa pada seni visual dan kepenulisan.

Ketertarikannya pada komunikasi juga membawanya aktif sebagai pembicara publik di berbagai topik, mulai dari pendidikan, menulis, komunikasi, marketing, hingga pengembangan diri. Melalui media sosial, ia konsisten berbagi pengalaman dan informasi mengenai beasiswa dan pengembangan diri kepada audiens yang lebih luas.
Selama studi di Australia dan juga sampai sebelum memulai studi S3, Raissa bekerja sebagai PR and Communications Lead di sebuah perusahaan asal Australia selama empat tahun. Namun, keinginannya untuk kembali berkontribusi pada isu sosial membawanya kembali ke dunia akademik.

Saat ini, Raissa akan melanjutkan studi doktoral di NUS dengan fokus penelitian mengenai inclusive communications for marginalised individuals. Topik tersebut dipilih karena sejalan dengan nilai-nilai yang ia pelajari selama menempuh pendidikan di PSdK. Menurutnya, perspektif pemberdayaan yang diperoleh selama kuliah tidak terbatas pada satu bidang pekerjaan tertentu, melainkan dapat diterapkan dalam berbagai ruang, termasuk komunikasi. “Prinsip memanusiakan manusia dan semangat pemberdayaan dari PSdK selalu relevan dalam kehidupan saya sehari-hari,” tuturnya.

Bagi Raissa, perjalanan akademik dan profesional bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut dapat dibagikan untuk membuka kesempatan bagi orang lain. Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa PSdK untuk terus membangun relasi dan menjaga koneksi selama masa studi. Pesan Raissa untuk teman-teman Mahasiswa PSdK: “Semangat! PSdK itu bidang ilmu yang mulia, karena dunia ini butuh lebih banyak orang yang dapat membawa semangat pemberdayaan ke banyak orang. Stay connected to your friends and lecturers karena bisa dapat banyak kesempatan dari connection”