Angger Pamukti, alumnus Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) FISIPOL UGM angkatan 2018, sejak Mei 2024 menjabat sebagai Community Development Officer di PT Polytama Propindo, perusahaan produsen bijih plastik yang tergabung dalam Pertamina Group.

Bagi Angger, ilmu yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di PSdK FISIPOL UGM masih sangat relevan dan terus ia terapkan dalam pekerjaannya sehari-hari, khususnya dalam menjalankan program CSR dan pendampingan masyarakat. Mata kuliah seperti Pemberdayaan Masyarakat, Masalah-Masalah Sosial, Kebijakan Sosial, serta Kemiskinan dan Pembangunan menjadi bekal penting baginya dalam memahami kondisi sosial masyarakat secara lebih menyeluruh. Dari mata kuliah tersebut, ia belajar bagaimana melihat kebutuhan masyarakat, memahami akar persoalan sosial, hingga menyusun program yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Tidak hanya dari sisi keilmuan, masa kuliah juga membentuk pola pikir kritis Angger terhadap program pembangunan sosial. Ia mengaku, dalam menjalankan tugasnya, ia tidak sekadar memandang program CSR sebagai bentuk formalitas perusahaan, melainkan turut mempertimbangkan apakah program tersebut benar-benar memberikan dampak nyata dan dapat berkelanjutan bagi masyarakat. Kemampuan komunikasi dan koordinasi yang ia asah selama kuliah pun sangat membantunya ketika harus berinteraksi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, kelompok warga, hingga pihak internal perusahaan.
Menurut Angger, pendekatan keilmuan PSdK yang banyak membahas pemberdayaan masyarakat dan pembangunan sosial memiliki keterkaitan erat dengan praktik kerja di bidang community development dan CSR yang ia geluti saat ini.

Kepada mahasiswa PSdK yang tengah menempuh studi, Angger berpesan agar tetap menjalani proses perkuliahan dengan tekun dan serius, sebab banyak hal yang dipelajari ternyata sangat relevan dengan dunia kerja, terutama di bidang sosial, pemberdayaan masyarakat, maupun CSR. Selain memahami teori, ia menekankan pentingnya membiasakan diri untuk berpikir kritis terhadap berbagai program pembangunan atau pemberdayaan masyarakat, bukan hanya melihat apakah program tersebut berjalan, tetapi juga mempertanyakan apakah program itu benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memiliki dampak yang berkelanjutan.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mencari pengalaman di luar kelas, seperti berorganisasi, melakukan riset, mengikuti pengabdian masyarakat, magang, atau terlibat dalam proyek-proyek sosial. Pengalaman semacam ini, menurutnya, sangat membantu dalam memahami kondisi lapangan sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak.
Di akhir pesannya, Angger mengingatkan bahwa isu pembangunan sosial akan terus berkembang, termasuk isu-isu seputar sustainability, ESG, dan community development di lingkungan perusahaan. Karena itu, ia berharap mahasiswa PSdK dapat mulai aktif mengikuti perkembangan isu-isu tersebut agar memiliki perspektif yang lebih luas dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah.