Dialog KAPSTRA #2 “Mencari Sistem Pendidikan Terbaik: Perbandingan Pendidikan Korea Selatan dan Indonesia”

Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kualitas SDM korea selatan yang produktif dan pekerja keras. Jika ditarik ke belakang, ambisi masyarakat Korea Selatan dalam menempuh pendidikan nyatanya sudah dimulai sejak periode Joseon. Pada periode ini, masyarakat berlomba-lomba untuk mampu mengenyam pendidikan setinggi mungkin untuk dapat terlepas dari jeratan kemiskinan serta penanda status sosial seseorang dalam masyarakat. Hingga saat ini, pendidikan menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung kemajuan Korea Selatan. Bahkan, pemerintah Korea Selatan memberikan kebijakan berupa sekolah gratis untuk jenjang sekolah dasar, sehingga sebanyak 98,8% anak usia 6-12 tahun bisa ikut serta dalam kegiatan pendidikan sekolah dasar (Wulandari, Ardeni, Hilmin, & Novianti, 2023).

Dari sinilah kemudian budaya untuk memperoleh pendidikan sebaik-baiknya mengakar pada masyarakat Korea Selatan. Mereka dituntut untuk dapat mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi dunia kerja. Dengan pendidikan yang baik, maka baik pula pekerjaan yang akan didapatkan sehingga dari pekerjaan tadi mampu dihasilkan pendapatan yang mampu menjamin kehidupan seseorang menuju ke arah yang lebih baik. Pemikiran ini tak beda jauh dengan periode Joseon sebelumnya sehingga tak heran jika jenjang pendidikan memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini kemudian berpengaruh pada sifat kompetitif antara masyarakat Korea Selatan. Bukan hanya pelajar saja yang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, para orang tua di Korea Selatan juga turut berkompetisi untuk dapat mencetak anak-anaknya menjadi yang paling unggul dibanding siswa lainnya. Para orang tua mati-matian untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah unggul dengan biaya yang mahal, bimbingan belajar, guru privat, serta penunjang pendidikan lainnya. Tak heran pelajar di Korea Selatan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk belajar dan belajar. Sekolah yang mereka jalani pada pagi hari masih harus dilanjutkan dengan kelas tambahan dan bimbel hingga tengah malam untuk belajar dan mendapat nilai ujian yang memuaskan. Tentunya hal ini tidak akan sia-sia setelah mereka mampu mendapatkan universitas dan perusahaan ternama setelahnya.

Namun, majunya sistem pendidikan Korea Selatan nyatanya tak sepenuhnya memiliki efek yang baik. Tekanan pendidikan yang diperoleh pelajar di Korea Selatan menjadikan mereka sebagai pelajar paling tidak bahagia di antara negara-negara maju lainnya (Wulandari, Ardeni, Hilmin, & Novianti, 2023). Pelajar di Korea Selatan kerap kali tidak memperoleh kebebasan dalam menentukan pilihannya dalam menempuh pendidikan. Selain itu, ketidakpuasan orang tua terhadap hasil belajar anaknya juga menyebabkan banyaknya tindakan kekerasan dan hukuman berat yang semakin mengguncang psikis anak-anak. Tuntutan untuk selalu menjadi sempurna ini kemudian membawa mereka pada tingkat stress yang tinggi sehingga tidak asing rasanya apabila tingkat bunuh diri di Korea Selatan termasuk yang tertinggi di dunia. Selain berdampak pada psikis, ambisi orang tua untuk dapat menggiring anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan pekerjaan terjamin juga berdampak pada maraknya kecurangan dalam ujian, pemalsuan ijazah, penyuapan, dan kasus-kasus lainnya. 

Di sisi lain, sistem pendidikan Indonesia lebih merujuk pada konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu berupa proses pendidikan dengan sistem among. Sistem among merupakan sistem pendidikan yang bertujuan untuk menghasilkan manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri, manusia yang berdiri sendiri dalam merasa, berpikir, dan bertindak, manusia yang berkepribadian dan berkarakter (le Febre, 1952:12-13) dalam (Darmawan, 2016). Menurut sistem ini pendidikan yang membangun watak anak dengan sengaja, dengan cara perintah, paksaan terhadap batin anak, paksaan untuk tertib dan paksaan untuk sopan tidaklah dibenarkan. Sistem ini memberikan kebebasan kepada anak untuk dapat belajar sesuatu yang baik berdasarkan pengalamannya sendiri namun tetap dalam pengawasan guru dan pembimbing (Indrayani, 2019). Maka tak heran jika pendidikan di Indonesia mengedepankan sikap dan moral dalam pengajarannya. Dari sini kemudian memberikan nilai bahwa SDM yang unggul bukan hanya diukur dari tingkatan pendidikan dan posisi pekerjaannya saja, namun juga dari moral yang dimiliki oleh seseorang. Namun hal ini bukan berarti pendidikan formal untuk mencapai dunia kerja nanti tidak penting karena tetap saja kegiatan menuntut ilmu tentu menjadi salah satu cara seseorang untuk dapat menjadi sosok yang cerdas dan berpikiran terbuka. Dalam hal ini yang masih memerlukan perhatian khusus ada pada kesadaran orang tua akan pentingnya memberikan pendidikan formal yang baik bagi putra-putrinya. Pemerataan fasilitas serta akses pendidikan juga masih memerlukan peningkatan kembali agar pendidikan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat di Indonesia tanpa terkecuali. Guru sebagai teladan bagi pelajar juga perlu diperhatikan baik dari kualitas, persebaran, hingga penghargaannya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwasanya setiap negara memiliki karakteristiknya masing-masing dalam menjalankan sistem pendidikan di negaranya. Korea Selatan, sebagai negara yang minim SDA mau tak mau harus memaksimalkan keberadaan SDM-nya melalui pendidikan yang keras dan ambisius untuk menciptakan SDM yang unggul dan berkualitas agar mampu menjadi kekuatan bagi negara Korea Selatan itu sendiri. Sementara Indonesia menyesuaikan dengan karakteristik bangsanya mengadopsi sistem pendidikan among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang mengedepankan pengajaran dengan memberikan bimbingan dan pengawasan kepada anak agar mampu menjadi manusia yang mandiri dan mampu mengembangkan bakatnya untuk kemudian dapat memberikan manfaat bagi banyak orang sehingga dalam hal ini selain memiliki kecerdasan intelektual, anak juga memiliki budi yang luhur dalam menjalani kehidupannya.

Penulis : Khumaerotul Husna (Staf Divisi Pengembangan Wawasan dan Keilmuan)

Penyunting : Divisi Pengembangan Wawasan dan Keilmuan

Sumber Referensi

Darmawan, I. A. (2016). Pandangan dan Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Prosiding Seminar Nasional dan Bedah Buku (pp. 119-130). Salatiga: FKIP UKSW.

Indrayani, N. (2019). Sistem Among Ki Hadjar Dewantara dalam Era Revolusi Industri 4.0. Seminar Nasional Sejara ke 4 Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang (pp. 388-404). Padang: Universitas Negeri Padang.

Wulandari, D., Ardeni, .., Hilmin, .., & Novianti, D. (2023). Siatem Pendidikan Korea Selatan dan Indonesia. Jurnal Studi Islam Indonesia, 1(1), 17-32.