SELINTING: Mereduksi Climate Change dari Kita (Sebuah Persuasi untuk Kita Semua)

Kali ini selinting benar-benar hadir memberikan informasi penting untuk teman-teman. 

 

Melihat cuaca yang akhir-akhir ini terjadi, membuat kita merasa miris dengan kondisi alam. Banjir di mana-mana, hujan yang begitu lebat, tanah longsor di Bogor, dan segelintir kasus lain mengenai tanah, air, dan udara. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2022, banjir merupakan kasus bencana terbanyak yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, banjir sebenarnya bukan menjadi ancaman satu-satunya. Krisis pangan akibat banjir dapat menjadi bencana yang lebih mematikan dari sekadar air menggenang. Demikian pula dengan banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, dan dampak dari perubahan iklim lainnya.

 

Krisis iklim terjadi karena terjadi kenaikan suhu bumi. Kenaikan terhadap suhu global disebabkan oleh berkurangnya tumbuhan penyerap karbon dan pelepasan karbon ke udara. Seperti pelepasan gas chlorofluorocarbon, karbon monoksida, karbon dioksida, maupun metana. Lepasnya karbon tersebut disebabkan oleh air conditioner (AC), gas buang kendaraan, hingga peternakan. Terjadinya banyak bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim, haruslah membuat kita sadar akan dampak yang lebih besar ke depannya. Krisis iklim yang dapat berdampak pada kehidupan kita perlu menjadi perhatian bagi kita semua. Hal tersebut kita lakukan untuk menjaga kondisi bumi dari bahaya bencana iklim. Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak krisis iklim? Apakah bisa hanya melakukan hal-hal kecil? Simak penjelasan berikut.

  • Pengelolaan sampah sesuai jenisnya

Sampah yang dibuang sesuai jenisnya akan lebih mudah untuk diolah. Sampah anorganik umumnya akan didaur ulang menjadi bahan yang lebih bernilai guna, seperti pupuk kompos. Hal tersebut dapat mengurangi penguapan gas karbon ke udara.

  • No food waste

Ketika makan, perlu dihabiskan agar tidak menimbulkan food waste. Sampah makanan yang membusuk dan tidak diolah dengan baik akan menimbulkan pelepasan atom karbon ke udara. Dengan langkah kecil yang dilakukan seperti menghabiskan makanan, berkontribusi mereduksi pelepasan atom karbon ke udara guna mendukung bumi yang lebih hijau.

  • Mengurangi penggunaan energi

Nah, siapa nih yang kalau di rumah atau di kos menyalakan listrik tanpa maksud tertentu? Kita cenderung suka untuk menyalakan AC, laptop, kipas angin, televisi, ataupun lampu di siang hari. Padahal, perlu untuk menghemat energi guna mengurangi peningkatan suhu global. Sebab, listrik yang kita pakai biasanya bersumber dari batu bara dan minyak bumi. Saat kita boros energi, maka kita turut menyumbang pelepasan atom karbon ke udara.

  • Manajemen hidup hijau

Dengan manajemen hidup hijau, kita dapat membantu bumi untuk lebih baik. Bepergian dengan jalan kaki atau menggunakan sepeda untuk jarak yang dekat menjadi salah satu langkah konkret untuk menjaga bumi dari pemanasan global. Pemakaian transportasi umum untuk bepergian jauh juga menjadi pilihan untuk mengurangi penguapan atom karbon ke udara. Penggunaan kendaraan umum membuat kita dapat menghemat energi dan meminimalisir pelepasan karbon ke udara yang menjadi penghambat keluarnya panas masuk di ozon. Selain itu, kebiasaan untuk menanam tanaman apapun jenisnya dapat menjadi langkah kecil untuk membantu alam mendekomposisi atom karbon di udara. Mekanisme fotosintesis yang menyerap karbon monoksida atau karbon dioksida menjadi langkah baik untuk mewujudkan bumi yang lebih sejuk.

  • Memakan sayuran atau buah

Hewan ternak merupakan salah satu sumber penghasil atom karbon ke udara terbesar melalui gas metana. Kotoran hewan ternak umumnya mengandung gas metana yang memiliki unsur karbon dan dapat menjadi efek rumah kaca. Karbon yang diuapkan menjadi penghalang dari keluarnya panas yang masuk ke bumi sehingga menimbulkan efek rumah kaca atau pemanasan global. Namun, dengan memakan sayuran atau buah-buahan, kita setidaknya telah mendukung pengurangan pelepasan atom karbon ke udara dan mencegah pemanasan global. 

 

Penulis: Fachrurizal Mahendra (Staf Divisi Keilmuan KAPSTRA)

Penyunting: Raden Roro Seraphine Kalista Drupadi (Sekretaris KAPSTRA)


Referensi

Aeni, Siti Nur. (2022, Juni 10). Memahami Contoh Perubahan Iklim dan Upaya untuk Mengatasinya. Katadata.co.id. Diakses dari: https://katadata.co.id/agung/berita/62a30103c430d/memahami-contoh-perubahan-iklim-dan-upaya-untuk-mengatasinya pada 18 Oktober 2022.

Annur, Cindy Mutia. (2020, September 22). Intensitas Bencana Banjir di Indonesia Selama 10 Tahun Terakhir. Katadata.co.id. Diakses dari: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/22/intensitas-bencana-banjir-di-indonesia-selama-10-tahun-terakhir pada 18 Oktober 2022.

Infografis Geoportal Data Bencana Indonesia. BNPB Indonesia. Diakses dari: https://gis.bnpb.go.id/ 

Lidwina, Andrea. (2020, Juni 08). Berapa Jumlah Kejadian Banjir dalam Lima Tahun Terakhir?. Katadata.co.id. Diakses dari: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/06/08/berapa-jumlah-kejadian-banjir-dalam-lima-tahun-terakhir pada 18 Oktober 2022.

 

Leave a Comment