Pertamina RU IV Cilacap Berbagi Pengalaman CSR dan Resolusi Konflik

Yogyakarta, 12 Mei 2026 — Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kuliah Dosen Tamu (Guest Lecture Series) bertajuk “Engagement Sosial dan Dinamika Implementasi CSR dalam Upaya Mengantisipasi Konflik dengan Masyarakat”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Auditorium pada pukul 10.00–12.00 WIB ini menghadirkan praktisi dari PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit IV Cilacap sebagai pembicara tamu.

Kuliah ini diikuti oleh mahasiswa S1 Mata Kuliah Konflik di Kawasan Industri dan Pemberdayaan Masyarakat serta mahasiswa S2 Mata Kuliah Manajemen CSR dan Resolusi Konflik. Dalam sambutan pembukaan, dosen pengampu Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si. menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai jembatan antara teori akademis dengan realitas di lapangan.

Peran Community Relation & CSR dalam Industri Energi

Pembicara tamu, Lifania Riski Nugrahani, A.Md.M., S.M., C.MBA-CSR, memaparkan bagaimana peran divisi Community Relation & CSR menjadi krusial dalam operasional perusahaan energi sebesar Pertamina. Sebagai BUMN dengan core bisnis energi yang besar dan telah terbagi ke dalam beberapa subholding, Pertamina menghadapi berbagai risiko operasional mulai dari risiko kebocoran hingga gangguan pemeliharaan kilang  yang berpotensi memicu ketegangan sosial apabila tidak dikelola dengan baik.

Menurut Lifania, divisi ini menjalankan tiga fungsi utama: pengelolaan hubungan publik (public relation) untuk meredam isu-isu yang muncul, pengelolaan hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder management) mulai dari masyarakat, media massa, hingga pemerintah, serta implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Mekanisme Resolusi Konflik: Dari Pencegahan Dini hingga Win-Win Solution

Salah satu poin penting dalam kuliah ini adalah pemaparan mekanisme resolusi konflik yang diterapkan Pertamina. Mekanisme tersebut mencakup pencegahan dini, identifikasi aktor, dialog multi pihak, mediasi netral, hingga pencapaian solusi yang saling menguntungkan. Contoh nyata yang disampaikan antara lain pemberian sosialisasi kepada nelayan di wilayah perairan sekitar area operasional, serta komunikasi proaktif kepada masyarakat dan pemerintah setempat mengenai aktivitas pemeliharaan kilang yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.

Evolusi TJSL: Dari Charity Menuju ESG & Shared Value

Lifania juga menguraikan perkembangan konsep TJSL perusahaan yang telah berevolusi melewati empat tahap: dari charity (bantuan sosial satu kali), community development (pemberdayaan menuju kemandirian), sustainability (keberlanjutan program pasca intervensi), hingga ESG & Shared Value yang menciptakan nilai keuntungan bersama bagi masyarakat dan perusahaan.

Sebagai ilustrasi tahap sustainability, disebutkan program CSR Pertamina di Dusun Bondang berupa instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang kini telah mandiri dikelola masyarakat usai program selesai. Sementara untuk tahap ESG & Shared Value, Pertamina Production Unit Jakarta meresmikan “Bengkel Sampah Tukar Oli” yang dikelola komunitas peduli lingkungan dan anak yatim di Jakarta Utara pada 2021.

Praktik CSR di Cilacap: Program MAMAKU SIGAB

Bagian akhir kuliah membahas studi kasus praktik CSR Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap melalui program MAMAKU SIGAB. Program ini lahir sebagai respons atas sejumlah permasalahan di Kelurahan Kutawaru, antara lain tumpukan sampah laut (marine debris) sebesar 240,9 ton per tahun akibat tidak adanya infrastruktur pengelolaan sampah, rendahnya tingkat ekonomi masyarakat yang berada di bawah UMK Cilacap, serta keterbatasan akses pendidikan.

Pertamina merespons kondisi tersebut melalui empat program utama: Pesisir Produktif untuk memulihkan ekosistem pesisir, Wisata Kampung Kepiting yang memberdayakan ibu-ibu eks TKW dalam budidaya dan pengolahan kepiting, P4S untuk budidaya burung puyuh bagi masyarakat sekitar, serta Pasar Amarta yang membuka akses pasar mingguan bagi warga.

Program MAMAKU SIGAB juga memiliki komponen Bank Sampah Abhipraya yang menghasilkan bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) bagi perusahaan sekaligus menghemat biaya retribusi pengelolaan sampah bagi masyarakat sebuah model CSV (Creating Shared Value) yang konkret. Program ini telah memiliki roadmap 2022–2026 sebelum memasuki fase exit strategy, dengan standar yang jelas bagi setiap pemangku kepentingan.

Kegiatan Guest Lecture Series ini menjadi ruang pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa PSdK UGM untuk memahami secara langsung bagaimana teori-teori resolusi konflik dan manajemen CSR diterapkan dalam konteks industri energi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya

advanced divider
Kategori